Keinginan Kanya justru tidak Tuhan langsung kabulkan. Pasalnya, ketika dia berdoa agar tidak ada Dokter yang menanganinya, Dokter wanita kemudian datang bersama satu perawat di belakangnya, masuk ke dalam ruang UGD dan jalan menuju tempat tidurnya.

“Kenapa ini? Kita periksa dulu ya.” ujarnya.

“Dok, tirainya tutup, ya?” Kanya meminta sebelum Dokter memulai pemeriksaannya. Ketika Mamanya melangkah maju untuk tetap berada di dalam lingkup tempat tidur Kanya, Kanya justru menolak.

“Mama di luar aja. Plis..” pinta Kanya kembali dengan wajah pucatnya. Entah alasan yang mana sehingga dirinya begitu pucat dan cemas. Apa Kanya benar-benar sakit atau justru ada alasan lain?

Mamanya enggan mendebat. Beliau memutuskan untuk mengikuti kemauan anak bungsunya.

Situasi kemudian menjadi lebih tenang bagi Kanya. Kini hanya ada dirinya dengan Dokter perempuan bernama Susan.

Dokter Susan dengan satu perawatnta mengecek tubuh Kanya. Sang perawat memeriksa tekanan darah Kanya sedangkan Dokter Susan mengajaknya berbicata.

“Udah berapa kali pingsan? Inget gak?”

“Kayanya ini pertama kali.”

“Yang dirasain apa? Sebelum kunang-kunang?” tanya Dokter Susan kembali.

“Gak ada Dok, tiba-tiba jatoh aja gitu.. tapi rasanya setiap hari sakit kepala, mual, sakit badan, tidur juga gak enak. Makanan juga kadang masuk kadang enggak.” keluh Kanya dengan suara yang lumayan pelan.

“Lagi datang bulan, gak?” tanya sang Dokter. Kanya nggak langsung menjawab, dia sempat ragu namun akhirnya menggeleng pelan.

“Terakhir datang bulan kapan? Bulan ini udah?” tanya Dokter Susan lagi.

Lagi-lagi Dokter itu mengajukan pertanyaan yang sejujurnya Kanya nggak mau jawab.

Kanya menggeleng lagi.

“Terakhir kapan? Inget gak? Atau siklus mens nya memang selalu nggak tentu?”

Kanya mengedarkan pandangannya ke sudut ruangan untuk berpikir sejenak.

“Minggu ke-3 bulan September.” jawab Kanya sangat pelan.

Dokter Susan berpikir sejenak. “Sekarang udah akhir November, berarti telatnya udah mau dua bulan, ya?”

Kanya ngangguk.