Entah berapa kali Kanya datang ke rumah Mami. Namun di kesempatan kali ini berbera. Kanya datang sebagai Kanya pacar Yuan, bukan sebagai Kanya bebysitter dari Bebi. Jujur ini aneh.

Apalagi ketika Yuan menggenggam tangannya erat saat memasuki kawasan rumah.

Mami datang dan menyambut Kanya dengan hangat. Seolah-olah dirinya sudah tau apa yang sebenarnya terjadi.

Mami memeluk Kanya dan Kanya bilang :

“Maafin aku Mami, aku ninggalin Bebi.” kata Kanya. Mami mengelus punggung wanita itu. Melihat Kanya kembali, Maminya menangis, Kanya merupakan salah satu kebahagiaan untuknya karena mampu mengubah pandangan Yuan tentang wanita dan trauma.

Mami sempat putus asa karena Yuan memutuskan untuk hidup sendiri. Mungkin hanya bersama Bebi.

Tapi Bebi akan tumbuh dan menikah. Mami nggak mau anak bungsunya tersiksa seumur hidup dan diselimuti rasa bersalah terus menerus. Tapi Kanya datang dan Yuan terlihat bersemangat setelah itu. Mami bersyukur.

“Kamu sudah tenang?” tanya Mami.

Kanya mengangguk.

Kemudian, Bebi datang dengan berlari, ketika baru saja Yuan memberi tahunya kalau Kanya ada di rumah.

Bebi berlari dan langsung memeluk kaki wanita itu.

“Nyanyaaaaa!” teriaknya. Kanya mencoba mensejajarkan arah padangnya dengan Bebi dan memeluknya.

“Kenapa Nyanya pergi? Kenapa ninggalin aku?”

Kanya kemudian merasa bersalah.

“Enggak, Nyanya nggak ninggalin Bebi. Nyanya bakal ketemu anak cantik kok.”

“Nyanya hari ini tidur sama Mbi?”

Kanya melirik Yuan untuk meminta jawaban.

“Bebi mau jalan-jalan gak?” tiba-tiba tanya Yuan. Bebi menjawab Mau dengan semangat.

“Bebi mandi dulu sama Mba Ica ya, Nyanya, Yaya sama Nenek tunggu di ruang TV!” kata Yuan. Sekedar informasi, Mba Ica adalah orang yang mebantu pekerjaan Mami di rumah setiap hari.