Yuan keluar dari kamarnya pada jam 9 pagi. Dirinya pergi untuk memastikan Kanya sudah bangun atau belum. Namun saat dirinya membuka pintu kamar, dia bisa melihat Kanya yang tengah duduk di kurai sofa ruang tengah sambil membawa cemilan dan menonton kartun di Netflix.

“Udah sembuh?” tanya Yuan lumayan terkejut karena Kanya sama sekali nggak kaya orang sakit hari ini.

“Iya.” Jawab Kanya singkat. Yuan duduk di sampingnya dan Kanya langsung bilang.

“Nanti jam 10 an aku mau pulang.” katanya.

Saking sudah terbiasanya, mendengar kata pulang, Yuan seolah-olah menolak. Padahal ini, bukan rumah Kanya. Dan padahal, dia sendiri yang bilang kalau Kanya bisa pulang kapan saja.

Jujur, Yuan sudah terbiasa ada Kanya di rumah ini.

“Cepet banget. Baru juga ketemu aku. Gak kangen? Sedikitpun gak kangen?” pertanyaan Yuan menjebak. Bagaimanapun juga, Yuan masih pacarnya. Tapi Kanya terlalu gengsi buat jawab.

Jadi dia diem.

“Kepala aku udah dingin, maaf kalau waktu itu aku sempet bicara kasar sama kamu. Aku nyesel, aku minta maaf.” kata Yuan. Kanya diam saja, nggak mau bicara apa-apa.

Kanya malah tanya sesuatu hal yang lain.

“Bebi dimana?”

“Di Mami, udah satu bulan.”

Cukup shock tau kenyataan itu. Perasaan rindu dan iba juga datang. Jujur, Kanya mau minta dipertemukan dengan Bebi juga, tapi dia malu.

“Dia nanyain kamu terus.” kata Yuan.

“Sekolahnya gimana? Masa dia gak sekolah?”

“Sekolahnya pergi dari rumah Mami, dan dianter Mami, kadang Papi.” jawab Yuan.

Kanya merenung, perkataan Aura terbayang-bayang. Kalau Bebi bukan tanggung jawab dia sepenuhnya, tapi perasaan sayang itu nggak pernah bohong.

“Mau dengerin cerita aku gak tentang Bebi?” tanya Yuan dengan lovlangnya yang Pysichal Touch itu mulai bermain. Yuan menyingkirkan anak rambut di wajah Kanya sambil mengelus pipi putihnya memakai ibu jarinya.

Kanya nggak menjawab dengan suara, tapi dengan tatapannya yang setuju kalau dia mau tau apa yang sebenarnya terjadi.