Setelah perdebatan panjang Yuan dengan Daniel di suatu kafe di daerah Jalan Merpati, akhirnya Yuan tau darimana semua berita itu muncul. Yuan sempat nggak bisa menahan emosinya dengan memukul meja resto sekuat mungkin ketika Daniel menyebut nama Niko.

Niko yang kasih gua informasi tentang lu sama Kanya, dia bilang managernya pernah lihat lu sama Kanya jalan. Kalau tentang anak lu, gak tau dia tahu darimana. Kayanya emang udah tau sendiri.”

Selama di dalam mobil, Yuan nggak bisa berkonsentrasi. Ingin rasanya dia pukulin Niko habis-habisan atau buat nama Niko redup. Tapi detik ini dia nggak bisa apa-apa. Dia marah tapi gak banyak yang bisa dia lakuin.

“Anjing dia lagi-dia lagi.”

Nggak bisa dipungkiri, kalau Niko mungkin tau sebagian cerita hidup Yuan karena mereka kenalan lama. Tapi nggak menduga Niko akan pakai ini untuk menghancurkannya. Niko berani membeberkan informasi mengenai keluarganya yang bahkan nggak keseluruhan cerita Niko tahu.

Mungkin belum terlalu malam juga, tapi tepat jam setengah dua belas malam, Yuan memutuskan untuk pergi ke Nu Denver. Salah satu tempat hiburan malam dengan standar premium.

Yuan memarkirkan mobilnya di basemant parkiran. Dan mulai memasuki area bar bagian bawah, mulai terdengar suara gemuruh orang-orang yang dipadukan dengan suara musik DJ yang begitu kencang.

Malam ini, mungkin Yuan akan minum sampai dirinya nggak bisa berdiri lagi. Jujur dia stress banget. Berita anaknya ke up, dia harus berurusan lagi sama niko, gosip hoax tentang dirinya dimana-mana, dan yang paling buat dia nggak berdaya adalah Kanya pergi.

Yuan bertemu Nadia di perbatasan menuju tangga ke lantai dua, sengaja, Yuan mau Nadia menjemputnya supaya Yuan nggak perlu mencari table yang sudah Nadia pesan.

Nadia memeluknya, menyalurkan semangatnya melihat sahabatnya begitu layu malam ini.

“Gue seneng banget lo datang!!!” ungkap Nadia begitu excited dia berbicara tepat di depan telinga Yuan. Yuan cuma tersenyum simpul. Nadia menggenggam tangan Yuan dan menariknya untuk berjalan ke lantai atas, dan Yuan mengekor di belakang dengan tautan tangan yang masih tergenggam.

Kemudian saat akhirnya mereka berdua muncul di atas, dua orang wanita berjalan berpapasan dengan mereka bertujuan turun ke bawah.

Itu adalah Aura dan Kanya. Aura menemani Kanya turun ke bawah untuk pulang karena tubuhnya nggak kuat lagi harus berada di tempat seperti ini. Kanya merasakan sakit kepala yang amat sangat.

“Hah?Yuan?” Aura nggak sengaja menyebut nama itu sehingga Nadia, Kanya dan bahkan si pemilik nama, Yuan saling memandangi mereka.

Kanya melihat Yuan lagi dan begitupun sebaliknya. Termasuk situasi dimana tangan Nadia dan Yuan berpegangan.

Yuan langsung melepaskan genggaman tangannya karena dia tahu ada tatapan yang nggak beres yang muncul dari mata Kanya.

Nadia mengerti dan dengan panik dia bilang.

“Jangan salah paham… Yuan baru dateng… eh.. lo mau ngobrol dulu sama cewek lo? Gue duluan ya An,” kemudian Nadia pergi karena jujur, cewek itu gak mau dia menjadi alasan Yuan dan Kanya berantem.

“Ra, gue mau pulang, ah!” kata Kanya.