Selama hampir sebulan ini, mungkin bisa Yuan hitung jari kapan dia pulang ke rumahnya. Dan sudah selama itu pula Bebi berada di rumah Maminya. Yuan jadi nggak karuan dan dia masih mengulas apa yang terjadi kemudian langkah apa yang akan dia ambil selanjutnya.
Yuan akan terus memastikan Bebi aman dari dunia luar, tapi juga berharap Kanya kembali dan mau bicara.
Malam hari, di balkon lantai 2, sambil menggulir isi iPadnya, membaca berita apa saja mengenai dirinya, Yuan merokok.
Sambil terus berharap mencari kontak mana lagi yang harus dia hubungi untuk menghubungkannya dengan Kanya.
“Bebi tidurnya udah disiplin, jam 8 terus.” Maminya kemudian muncul dari arah belakang dan duduk di kursi kosong samping Yuan.
“Masih suka nanyain Kanya?”
“Masih.”
Yuan mematikan api kecil di rokoknya ke atas asbak.
“Kasian, kangen ya?”
Maminya ngangguk. “Kanya masih gak bisa dihubungi?” tanya Mami dan Yuan mengangguk.
“Emang salah Yuan sih, dari awal gak cerita.” gumamnya.
“Dari kapan kamu sama Kanya punya hubungan?”
“Belum ada sebulan, Mi.” mendengar jawaban anaknya, Mami mencoba menenangkan anak bungsunya sambil mengelus bahunya dan berkata :
“Nggak salah kamu lah, hubungan belum sebulan belum banyak yang bisa kamu ceritain. Cuma salahnya gak ada yang tau kalau berita bakalan ke up media dan terjadi.” kata Maminya.
Yuan diam.
“Berhenti nyalahin diri sendiri.” kata Maminya lagiZ
“Inikan yang orang-orang mau, Yuan punya pasangan. Tapi gak semua perempuan bisa nerima, Mi.” ungkap Yuan.
“Kanya tuh pergi bukan karena gak bisa nerima, Yuan. Dia aja belum tau cerita keseluruhannya.”
“Iya, tapi kapan. Ketemu aja susah.”