Jam setengah 12 siang, ketika Kanya dengan Bebi berada di ruang tengah, Mba Diah sedang sibuk dengan cucian kotornya dan Yuan yang entah sedang apa di kamarnya, pintu rumah mereka diketuk oleh seseorang.

Kanya berpikir mungkin itu tamu untuk Yuan karena hari ini Yuan nggak pergi kemana-mana. Namun, saat Kanya memutuskan untuk pergi membuka pintu dan melihat siapa tamu tersebut.

Kanya mematung.

Dia Nadia. Nadia yang cantik, wangi, rambutnya panjang pun tersenyum ketika melihat Kanya yang membuka pintu dan orang yang dia lihat pertama kali. Tidak ada perasaan buruk apapun tentang Kanya karena Yuan pernah cerita kalau ada babysitter di rumahnya.

“Ada Yuan?”

Pertanyaan Nadia membuat bibir datar Kanya semakin datar dibuatnya.

“Ada. Masuk dulu aja, saya panggilin.”

“Gak usah-gak usah, gue samperin dia aja. Lagi sakit kan ya? Dia di kamar kan?” tanya Nadia bertubi-tubi sambil menerobos masuk.

Nggak tahu sedekat apa hubungan mereka tapi cara Nadia menerobos masuk seperti ini membuat Kanya nggak menyukainya.

Apa ini memang perihal perasaan personal?

Nadia menerobos masuk ke dalam kamar Yuan (ya meskipun setelah dirinya mengetuk pintu kamar pribadi Yuan.)

Jujur, Kanya gak mau tahu lagi.

Tapi kok dia kesal, ya?

Nadia masuk ke dalam kamar Yuan dan pintunya hanya menyisakan segaris celah, SEGARIS CELAH BAYANGIN AJA? Gak sekalian tutup aja pintunya? Pikir Kanya, yang tadinya bilang gak peduli tapi sesekali ekor matanya menoleh ke arah kamar Yuan.

“Mau makan.” kata Bebi tiba-tiba.

“Bebi laper?”

Anak cantik itu mengangguk. Kemudian, Kanya berdiri dan berjalan menuju dapur. Memastikan apakah makan siang sudah siap. Diwaktu yang bersamaan, Mba Dia berjalan berlawan arah membawa makan siang milik Yuan dan Kanya menginterupsi langkahnya.

“Buat Pak Yuan?” tanyanya tiba-tiba. Mba Diah mengangguk

“Aku aja Mba yang bawain.”