Seperti yang Yuan perintah, setelah Bebi tertidur, pada jam setengah 9 malam, Kanya membawa makanan dan air putih ke dalam kamar Yuan. Sebelumnya, dia pastikan Yuan belum terlelap dengan cara mengiriminya text, dan Yuan sempat membalas.
Kanya masuk setelah mengetuk pintu kamar lelaki itu. Dilihatnya Yuan yang malah fokus dengan iPadnya dengan menyandar ke badan tempat tidurnya. Dia gak ngerti, sakit jenis apa yang Yuan rasain sampai masih sempet mengurus kerjaannya.
Melihat Kanya datang, Yuan sedikit menggeser konsentrasinya dengan kedatangan wanita tang tengah membawa makan malamnya tersebut.
“Masih kerja aja, Pak Yuan.” celetuk Kanya sambil memindahkan piring dan gelas dari nampan menuju samping meja Yuan.
“Iya gimana lagi, kerjaan gua belum bisa ditinggal tadi.” jawab Yuan.
“Ya udah ini dimakan, kalau butuh apa-apa kasih tau saya ya Pak, saya gak akan dulu tidur kok.”
Yuan menahan pergelangan tangan Kanya sambil bicara :
“Tadi pendaftaran Bebi gimana? Aman?” tanya Yuan. Sesuatu yang sebetulnya gak terlalu penting gak sih buat dibahas saat ini? Yuan seolah-olah mencari-cari alasan agar dirinya tetap berbicara dengan Kanya.
“Aman. Lancar aja sih Pak, Bebi juga kelihatan semangat banget.” jawab Kanya.
“Kapan mulai masuk?” pertanyaan Yuan selanjutnya sambil memasukan suap demi suap makan malamnya.
“Tanggal 11, sekitar 2 mingguan lagi.” jawab Kanya. Yuan mengangguk. Apa lagi ya topik yang harus dibahas?
“Oh iya Pak Yuan, saya mau bilang masih berhubungan sama pendaftaran Bebi tadi.”
Yuan semangat dong, karena Kanya membuka topik pembicaraan duluan.
“Iya? Gimana? Duduk aja disini, jangan berdiri kaya gitu.” kata Yuan sambil mengarahkan space kosong di samping tempat tidurnya.
“Izin ya Pak.” balas Kanya sambil duduk. “Jadi buat pendataan siswa, saya disuruh masukin nama orang tua Ibu sama Ayah, karena saya nggak tahu nama Ibu Bebi, jadi saya masukin nama saya di kolom Ibu, soalnya kata gurunya kolom orang tua sama kontak gak boleh kosong. Buat pendataan doang nanti bisa diubah kok. Saya juga nyantumin kontak saya. Maaf banget ya Pak Yuan. Mana waktu itu saya gak bisa hubungin Pak Yuan karena handphone saya di mobil.” papar Kanya.
Mendengar cerita Kanya, Yuan tersenyum simpul. Ini lucu sih, buat Yuan. Karena dia pikir Kanya akan bicara hal serius.
“Oh itu, gak apa-apa lah biarin aja. Gak diedit juga gak masalah.” jawab Yuan.
Kanya sedikit lega dengan jawaban atasannya itu, dia pikir Yuan akan menerima informasi tersebut dengan muka yang masam. Tapi nggak sama sekali.
“Kalau udah nggak ada yang mau diobrolin, saya ke kamar dulu kalau gitu.” kata Kanya. Mendengar ucapan pamit dari Kanya, Yuan terus menahannya dengan berbicara seadanya.
“Lu nyesel ya?”