Kalau sarapan atau makan malam mungkin sudah biasa Kanya lakukan berdua bersama Yuan. Tapi nonton serial romantis komedi pada jam 10 malam kayaknya baru Kanya lakukan pertama kali.

Kanya keluar dari ruang tidurnya dan mendapati Yuan tengah menonton sendirian dengan tawa kecilnya. Dengan kondisi lampu yang dirinya matikan, satu-satunya yang terang hanya dari layar televisi.

Saat suara pintu terbuka terdengar, Yuan menoleh ke sumber suara dan melihat Kanya dengan sweater ungu muda dan rambut panjangnya berdiri di belakang pintu.

“Sini.” kata Yuan mengajak Kanya untuk menonton bersama. Melihat Yuan yang juga membawa selimut tipia dari kamarnya, membuat Kanya mengikuti apa yang Yuan lakukan.

Kanya menghampiri Yuan dan mereka menonton bersama dengan selimut yang menutupi masing-masing kakinya.

Kanya duduk di samping Yuan dan mulai menikmati serial The Ultimatum: Marry or Move On.

Kanya mulai fokus dengan apa yang ia saksikan, ditambah tawa-tawa kecil pun keluar dari mulut keduanya. Meskipun ada beberapa cemilan dan Cola, tapi Yuan dan Kanya enggan menyentuhnya. Sampai akhirnya secara tidak sengaja sisi bagian jari kelingking mereka mulai bersentuhan.

Kanya awalnya nggak mempedulikan apa-apa. Tapi saat cuplikan film itu membawanya ke situasi lebih intim, keduanya mulai menyadari bahwa tangan mereka sedikit bersentuhan.

Situasi menjadi superrrrer canggung. Ditambah tidak ada suara yang timbul selain suara televisi. Yuan juga merasakan hal yang sama. Jantungnya bekerja lebih cepat.

“Mau Cola?” tanya Yuan, mencoba mencairkan suasana.

“Boleh.” kata Kanya. Sambil berusaha menuangkan Colanya sendiri, tapi Yuan mencegah tindakannya.

“Diem aja disitu. Gua ambilin.” kata Yuan.

Kanya yang gak tau harus apa kemudian memilih diam dan mengiyakan. Lalu, Yuan menyodorkan satu gelas Cola untuk Kanya dan Kanya menerimanya lalu setelahnya, kembali hening.

Mereka tetap berusaha fokus pada filmnya yang menyajikan adegan yang lumayan erotis. Namun masih terbilang biasa saja bagi keduanya.

Tangan Yuan masih menempel di samping tangan gadis cantik itu, tanpa mau merubah posisi lebih menjauh, Yuan justru menggerakan tangannya untuk berada di atas punggung tangan Kanya.

Dalam kata lain, Yuan menggenggam jemari gadis itu secara sadar, cowok itu sebenarnya ingin meledak, nggak karuan, perasaannya gak pernah ia rasakan bahkan sama perempuan manapun.

Begitupun Kanya, tindakan Yuan yang menggenggam tangannya diluar dugaan Kanya. Dia menoleh ke arah tangannya kemudian ke arah wajah cowok itu.

Yuan takut Kanya risi dan merasa terganggu, maka dia bertanya.