Esoknya. Tepat pada pukul 8.16 Kanya sampai di kediaman Yuan. Mungkin masih terbilang pagi, karena Mba Diah saja belum datang (Sekedar informasi Mba Diah datang jam 9 pagi) Saat sampai pun, rumah masih sangat sepi dan Kanya yakin, Yuan masih tidur.
Jadi, Kanya berinisiatif untuk membuat sarapan untuknya sendiri karena jujur Kanya belum makan apapun dari rumah.
Sempat mematung di bibir lorong antara dapur dan ruang tengah. Melihat ruangan itu rasanya dia menjadi marah. Tapi Kanya berusaha untuk melupakan kejadian itu.
Kanya mulai mencari bahan-bahan yang ada untuknya olah. Ada banyak bahan yang tersedia, termasuk nasi putih. Kanya memutuskan untuk membuat nasi goreng pagi itu
Mendengar ada suara aktivitas yang timbul di dapur, Yuan keluar dari kamarnya dengan setengah naked. Handuk putihnya melilit dari bawah puser sampai atas lutut.
Melihat Kanya ada di sana, dia terkejut.
“Oh ternyata lu? Kaget banget gua kira Mba Diah, soalnya Mba Diah bilang hari ini dia izin gak kerja dulu.” kata Yuan.
Kanya senyum ((((canggung)))). Rambut Yuan basah dan ada handuk di tubuhnya menandakan dia pasti sudah mandi di kamar mandi pribadinya.
“Sarapan Pak?” Kanya menawari.
“Buat apa?”
“Nasi goreng.”
“Mau ya. Gua pake baju dulu.”
Pagi itu, Yuan dan Kanya sarapan berasama. Mungkin rasa canggung nggak lagi begitu Kanya rasakan, karena hal semacam ini lumayan sering Kanya lakukan. Baik itu sarapan bertiga bersama Bebi, ketika makam malam, atau sebatas menemani Pak Yuan makan malam sepulang dirinya bekerja.
Kanya juga gak mengerti, semuanya berjalam begitu saja.
Kanya memperhatikan kaos santai Yuan yang cowok itu kenakan pagi ini.
“Pak Yuan hari ini gak ada acara di luar?” tanya Kanya.