Yuan sampai di rumah Maminya sekitar 15 menit kemudian. Dirinya sempat berbincang dengan Mami dan Bebi dan meyakinkan Bebi kalau apakah anak itu akan pulang dengannya atau tidak?
Tapi, Bebi tetap bersikuku untuk tinggal di rumah neneknya.
“Yaudah Mi, kalau gitu Yuan pulang dulu ya. Titip Bebi ya Mi, kalau ada apa-apa telepon aja.”
Yuan mencium tangan Mami dan Papinya kemudian Kanya mengikuti apa yang Yuan lakukan.
Di dalam mobil, Kanya menawarkan diri untuk menyetir. Karena jujur, dia malu, Yuan harus nyupirin Kanya tuh menurutnya sedikit nggak sopan kali ya.. ditambah Yuan baru pulang bekerja.
“Pak mau saya yang supirin?”
Yuan kaget kan ditanya begitu.
“Emang kamu bisa?”
“Bisa.”
Yuan menarik sebelah sudut bibirnya.
“Gausah lah, aneh banget gua disupirin cewek.” gitu katanya.
Kanya yang mendapat penolakan langsung, “Hmm.. Pak Yuan gak percaya sama saya ya.”
“Percaya kok, cuma gausah aja.”
Yuan mulai melajukan mobilnya dan mengajak Kanya mengobrol lagi.
“Lu tuh yang gak bisanya apa, sih?” tanyanya, gatau pujian atau sarkasme.
“Bikin film saya gak bisa pak.”
Jawaban Kanya buat Yuan ketawa.
“Oh iya btw, tadi gua ditelepon tim gua, kayanya gua harus ke studio dulu sebentar, gapapa ya?”
“Gak apa-apa Pak, kan saya tugasnya ngikut aja.”
Yuan ngangguk-ngangguk.